Welcome to Indonesia_Various Cultures in Indonesia_Come and Prove!!!!!!

Translate

Materi Kelas 8 Bhs Indonesia KD 6.1



MATERI

KD 6.1 BERMAIN PERAN SESUAI DENGAN NASKAH YANG DITULIS SISWA

A. Pendahuluan
Setelah berlatih menulis naskah drama, pada kesempatan kali ini kamu akan berlatih bermain peran. Agar mampu bermain peran dengan baik, kamu harus rajin berlatih. Hal-halyang harus  kamu lakukan untuk mempersiapkan pertunjukan drama, antara lain sebagai berikut.
1. Tulislah naskah sederhana (satu babak)!
2. Bedahlah isi naskah dengan calon pemain!
3. Lakukan casting untuk memilih pemain!
4. Berlatihlah membaca, menghafal, dan berdialog sesuai dengan karakter tokoh!
5. Berlatih gerak di atas panggung!
6. Berlatihlah dari awal sampai akhir!
7. Berlatihlah dengan kostum pentas!
8. Berlatihlah dengan properti dan musik!
9. Lakukanlah orientasi (penguasaan) panggung!
10. Siap menggelar pertunjukan/pentas!

B. Teknik Pemeranan
Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika bermain drama.
1. Penggunaan bahasa, baik cara pelafalan maupun intonasi, harus relevan. Logat yang diucapkan hendaknya disesuaikan dengan asal suku atau daerah, usia, dan status sosial tokoh yang diperankan.
2. Ekspresi tubuh dan mimik muka harus disesuaikan dengan dialog.
3. Untuk lebih menghidupkan suasana dan menjadikan dialog lebih wajar dan alamiah, para pemain dapat berimprovisasi di luar naskah.
4, Melafalkan dengan baik tiap kalimat yang diucapkan tokoh drama, dapat menggambarkan karakter tokoh serta konflik yang timbul di dalamnya. Oleh karena itu, seorang pemain drama harus meresapi isi cerita. Ia perlu memerhatikan petunjuk yang dituliskan pengarang (mengenai suasana dan gerak tokoh) serta kalimat-kalimat yang diucapkannya. Kalimat yang diucapkan harus sesuai dengan suasana yang dimaksud, begitu pun gerak yang dilakukannya.
Kalian pernah memerankan tokoh tertentu dalam suatu pementasan drama? Jika kalian akan bermain peran, perhatikanlah komponen-komponen dalam bermain peran.

Komponen-komponen yang harus diperhatikan dalam bermain peran berdasarkan naskah adalah sebagai berikut:
1. Penghayatan
Penghayatan adalah pemahaman terhadap isi naskah drama yang akan dipentaskan yang terlihat pada ekspresi dan pemahaman karakter tokoh. Dalam bermain peran, pemahaman harus dilakukan terhadap keseluruhan teks, tidak hanya terbatas tokoh yang diperankan saja. Pemahaman terhadap tokoh yang diperankan tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya pemahaman terhadap tokoh yang lain mengenai latar belakang sosial budaya yang ada dalam teks tersebut, dan tanggapan tokoh lain terhadap tokoh yang diperankan.

2. Vokal
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bermain peran mengenai vokal yaitu:
a. Kejelasan ucapan
Setiap kata atau kalimat yang ada dalam teks drama yang diekspresikan harus dapat didengar oleh pendengar atau penonton secara jelas. Jelas tidaknya suatu ucapan tergantung suara yang diucapkan. Untuk dapat menghasilkan suara yang jelas rajinlah mengadakan pelatihan olah vokal.
b. Jeda
Masalah jeda, kalian harus dapat mengatur secara tepat, artinya di manakah kalian boleh mengambil nafas dan berapa lama, karena jeda merupakan faktor yang penting supaya apa yang diucapkan sampai kepada pendengar/penonton
c. Ketahanan dan kelancaran
Dalam bermain peran diharapkan seorang tokoh/pemain memiliki ketahanan dan kelancaran suara. Seorang tokoh jangan sampai terjadi intensitas suara semakin berkurang, atau semakin lama semakin tidak lancar dalam berdialog.

3. Penampilan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penampilan kita adalah:
a. Teknik muncul
Teknik muncul yakni cara yang harus ditempuh dalam memperlihatkan diri untuk
pertama kalinya.
b. Gerakan
Gerakan artinya cara mengekspresikan tubuh yang disesuaikan dengan dialog yang diucapkan.
c. Cara berpakaian
Cara berpakaian sering disebut dengan kostum. Kostum harus disesuaikan benar dengan karakter tokoh sehingga kostum yang dipakai dapat lebih mencerminkan karakter tokoh.
d. Pandangan mata
Pandangan mata juga disesuaikan dengan karakter tokoh yang diperankan.
e. Konsentrasi
Konsentrasi merupakan pengelolaan dari yang dapat menentukan keberhasilan dalam mengekspresikan drama, karena konsentrasi berfungsi sebagai pembalut saat berekspresi.

Pentaskan naskah drama di bawah ini dengan teman-teman kalian!
Berikut ini naskah drama “Badai Sepanjang Malam” karya Max Arifin.

BADAI SEPANJANG MALAM

Karya MAX ARIFIN
Para Pelaku:
1. Jamil, seorang guru SD di Klaulan,Lombok Selatan,berumur 24 tahun
2. Saenah,istri Jamil berusia 23 tahun
3. Kepala Desa,suara pada flashback
Setting:
Ruangan depan sebuah rumah desa pada malam hari.Di dinding ada lampu minyak menyala.Ada sebuah meja tulis tua. Diatasnya ada beberapa buku besar.Kursi tamu dari rotan sudah agak tua.Dekat dinding ada balai balai.Sebuah radio transistor juga nampak di atas meja.
Suara:
Suara jangkerik.suara burung malam.gonggongan anjing di kejauhan. Suara Adzan subuh.
Musik:
Sayup sayup terdengar lagu Asmaradahana,lewat suara sendu seruling
Note:
Kedua suami istri memperlihatkan pola kehidupan kota.dengan kata lain, mereka berdua memang berasal dari kota. Tampak pada cara dan bahan pakaian yang mereka kenakan pada malam hari itu. Mereka juga memperlihatkan sebagai orang yang baik baik. Hanya idelisme yang menyala-nyala yang menyebabkan mereka berada di desa terpencil itu. 01.
Begitu layar tersingkap, nampak Jamil sedang asyik membaca. Kakinya ditelusurkan ke atas kursi di depannya. Sekali-sekali ia memijitmijit keningnya dan membaca lagi. Kemudian ia mengangkat mukanya, memandang jauh ke depan, merenung dan kembali lagi pada bacaannya. Di kejauhan terdengar salak anjing melengking sedih. Jangkerik juga menghiasi suasana malam itu. Di kejauhan terdengar seruling pilu membawakan Asmaradahana. Jamil menyambar rokok di atas meja dan menyulutnya. Asap berkepul ke atas. Pada saat itu istrinya muncul dari balik pintu kamar.

02. Saenah:

Kau belum tidur juga? kukira sudah larut malam. Beristirahatlah, besok kan hari kerja?

03. Jamil:
Sebentar, Saenah. Seluruh tubuhku memang sudah lelah, tapi pikiranku masih saja mengambang ke sana kemari. Biasa, kan aku begini malam malam.

04. Saenah:
Baiklah, tapi apa boleh aku ketahui apa yang kaupikirkan malam ini?

05. Jamil:
Semuanya, semua apa yang kupikirkan selama ini sudah kurekam dalam buku harianku, Saenah. Perjalanan hidup seorang guru muda yang ditempatkan di suatu desa terpencil seperti Klulan ini kini merupakan lembaran-lembaran terbuka bagi semua orang.

06. Saenah:
Kenapa kini baru kau beritahukan hal itu padaku? Kau seakan akan menyimpan suatu rahasia. Atau memang rahasia?

07. Jamil:
Sama sekali bukan rahasia, sayangku! Malammalam di tempat terpencil seakan memanggil aku untuk diajak merenungkan sesuatu.Dan jika aku tak bisa memenuhi ajakannya aku akan mengalami semacam frustasi. Memang pernah sekali, suatu malam yang mencekam, ketika aku sudah tidur dengan nyenyak, aku tiba pada suatu persimpangan jalan di mana aku tidak boleh memilih. Pasrah saja. Apa yang bisa kaulakukan di tempat yang sesunyi ini? (Dia menyambar buku hariannya yang terletak di atas meja dan membalik balikkannya) Coba kaubaca catatanku tertanggal…(sambil masih membolak balik)..ini tanggal 2 oktober 1977.

08. Saenah:
(Membaca) “Sudah setahun aku bertugas di Klaulan. Suatu tempat yang terpacak tegak seperti karang di tengah lautan, sejak desa ini tertera dalam peta bumi. Dari jauh dia angker, tidak bersahabat: panas dan debu melecut tubuh.Ia kering kerontang, gersang. Apakah aku akan menjadi bagian dari alam yang tidak bersahabat ini? Menjadi penonton yang diombangkan-ambingkan oleh…barang tontonannya. Setahun telah lewat dan selama itu manusia ditelan oleh alam”. (Pause dan Saenah mengeluh; memandang sesaat pada Jamil sebelum membaca lagi). ”Aku belum menemukan kejantanan di sini. Orang-orang seperti sulit berbicara tentang hubungan dirinya dengan alam.Sampai di mana kebisuan ini bisa diderita? Dan apakah akan diteruskan oleh generasi-generasi yang setiap pagi kuhadapai?
Apakah di sini tidak dapat dikatakan adanya kekejaman.” (Saenah berhenti membaca dan langsung menatap pada Jamil)

09. Jamil:
Kenapa kau berhenti? Jangan tatap aku seperti itu, Saenah.

10. Saenah:
Apakah tulisan ini tidak keterlaluan? Bisakah ditemukan kejujuran di dalamnya?

11. Jamil:
Kejujuran kupertaruhkan di dalamnya, Saenah. Aku bisa mengatakan, kita kadang-kadang dihinggapi oleh sikap-sikap munafik dalam suatu pergaulan hidup. Ada ikatan-ikatan yang mengharuskan kita berkata “Ya!” terhadap apa pun, sekalipun dalam hati kecil kita berkata”Tidak”. Kejujuranku mendorong aku berkata, ”Tidak”, karena aku melatih diri menjadi orang yang setia kepada nuraninya. Aku juga tahu, masa kini yang dicari adalah orang orang yang mau berkata ”Ya”. Yang berkata “Tidak” akan disisihkan. (Pause) Memang sulit, Saenah. Tapi itulah hidup yang sebenarnya terjadi. Kecuali kalau kita mau melihat hidup ini indah di luar, bobrok di dalam. Itulah masalahnya. (Pause. Suasana itu menjadi hening sekali. Di kejauhan terdengar salak anjing berkepanjangan)

12. Saenah:
Aku tidak berpikir sampai ke sana. Pikiranku sederhana saja. Kau masih ingat tentunya, ketika kita pertama kali tiba di sini, ya setahun yang lalu. Tekadmu untuk berdiri di depan kelas, mengajar generasi muda itu agar menjadi pandai. Idealismemu menyala-nyala. Waktu itu kita disambut oleh Kepala Desa dengan pidato selamat datangnya. (Saenah lari masuk. Jamil terkejut. Tetapi sekejap mata Saenah muncul sambil membawa tape recorder!) Ini putarlah tape ini. Kaurekam peristiwa itu. (Saenah memutar tape itu, kemudian terdengarlah suara Kepala Desa) “…Kami ucapkan selamat datang kepada Saudara Jamil dan istri. Inilah tempat kami. Kami harap saudara betah menjadi guru di sini. Untuk tempat saudara berlindung dari panas dan angin, kami telah menyediakan pondok yang barangkali tidak terlalu baik bagi saudara. Dan apabila Anda memandang bangunan SD yang cuma tiga kelas itu.
Dindingnya telah robek, daun pintunya telah copot, lemari-lemari sudah reyot, lonceng sekolah bekas pacul tua yang telah tak terpakai lagi. Semunya, semuanya menjadi tantangan bagi kita bersama. Selain itu, kami perkenalkan dua orang guru lainnya yang sudah lima tahun bekerja di sini. Yang ini adalah Saudara Sahli, sedang yang berkaca mata itu adalah Saudara Hasan. Kedatangan Saudara ini akan memperkuat tekad kami untuk membina generasi muda di sini. Harapan seperti ini menjadi harapan Saudara Sahli dan Saudara Hasan tentunya.” (Saenah mematikan tape. Pause, agak lama. Jamil menunduk,sedang Saenah memandang pada Jamil. Pelan pelan Jamil mengangkat mukanya. Mereka berpandangan)

13. Saenah:
Semua bicara baik-baik saja waktu itu dan semuanya berjalan wajar.
14. Jamil:
Apakah ada yang tidak wajar pada diriku sekarang ini?
15. Saenah:
Kini aku yang bertanya: jujurkah pada nuranimu sendiri? Penilaian terakhir ada pada hatimu dan mampukah kau membuat semacam pengadilan yang tidak memihak kepada nuranimu sendiri? Karena bukan mustahil sikap keras kepala yang berdiri di belakang semuanya itu. Terus terang dari hari ke hari kita seperti terdesak dalam masyarakat yang kecil ini.

16. Jamil:
Apakah masih harus kukatakan bahwa aku telah berusaha berbuat jujur dalam semua tindakanku? Kau menyalahkan aku karena aku terlalu banyak bilang ”Tidak” dalam setiap dialog dengan sekitarku. Tapi itulah hatiku yang ikhlas untuk ikut gerak langkah masyarakatku. Tidak, Saenah. Mental masyarakat seperti katamu itu tidak terbatas di desa saja, tapi juga berada di kota

17. Saenah:
Kau tidak memahami masyarakatmu.

18. Jamil:
Masyarakat itulah yang tidak memahami aku.

19. Saenah:
Siapa yang salah dalam hal ini.

20. Jamil:
Masyarakat.

21. Saenah:
Yang menang?

22. Jamil:
Aku

23. Saenah:
Lalu?

24. Jamil:
Aku mau pindah dari sini. (Pause. Lama sekali mereka berpandangan.)

25. Saenah:
(Dengan suara rendah) Aku kira itu bukan suatu penyelesaian.

26. Jamil:
(Keras) Sementara memang itulah penyelesaiannya.

27. Saenah:
(Keras) Tidak! Mesti ada sesuatu yang hilang antara kau dengan masyarakatmu. Selama ini kau membanggakan dirimu sebagai seorang idealis. Idealis sejati, malah. Apalah arti kata itu bila kau sendiri tidak bisa dan tidak mampu bergaul akrab dengan masyarakatmu. (Pause) (Lemah diucapkan) Aku terkenang masa itu, ketika kau membujuk aku agar aku mu datang kemari (Flashback dengan mengubah warna cahaya pelan pelan. Memakai potentiometer. Bisa hijau muda atau warna lainnya yang agak kontras dengan warna semula. Musik sendu mengalun)

28. Jamil:
Aku mau hidup jauh dari kebisingan, Saenah. Aku tertarik dengan kehidupan sunyi di desa, dengan penduduknya yang polos dan sederhana. Di sana aku ingin melihat manusia seutuhnya. Manusia yang belum dipoles sikap sikap munafik dan pulasan belaka. Aku harap kau menyambut keinginanku ini dengan gembira, dan kita bersama-sama ke sana. Di sana tenagaku lebih diperlukan daripada di kota. Dan tentu banyak yang dapat aku lakukan.

29. Saenah:
Sudah kaupikirkan baik baik? Perjuangan di sana berarti di luar jangkauan perhatian. ………………………………………..
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Mengapa bermain peran memerlukan naskah?
2. Mengapa dialog tokoh cerita harus dihafal dan dimengerti maksudnya oleh pemeran tokoh?
3. Apa tujuan berlatih gerak dan langkah pemain sebelum pentas?
4. Mengapa sutradara perlu mendiskusikan isi naskah dengan calon pemain?
5. Apa yang dimaksud dengan latihan proses dalam bermain drama?

Peragakan dialog berikut dengan lafal, intonasi, dan karakter yang tepat!
Nenek : Maaf Brenda, Nenek rasa, Nenek harus mengambil anakmu sekarang juga. Bayi itu harus segera mendapatkan perawatan dan nutrisi yang baik.
Brenda : Tidak, Nek. Bayi itu tidak boleh dibawa pergi. Aku masih bisa merawatnya.
Nenek  : Tapi kau sakit, Brenda.
Brenda : Berada di dekat anakku, aku merasa sangat sehat, Nek.
Nenek : Brenda, dengarkanlah nasihat nenekmu kali ini. Lebih baik kau menerima tawaran ibumu untuk segera mendapatkan perawatan di rumah sakit. Jangan keras kepala, Nak!
Brenda : (menggeleng)
Nenek : Jangan keras kepala, Brenda!
Brenda : Nek, kata dokter, umurku hanya diperkirakan sekitar dua bulan lagi. Jika Tuhan benar-benar menghendakiku berpulang dua bulan lagi, dalam dua bulan ini aku ingin selalu dekat dengan bayiku. Aku tidak mau hanya terbaring tidak berdaya di rumah sakit tanpa melihat wajah mungilnya.

Tugas
1. Pilihlah salah satu naskah yang ditulis temanmu (naskah sendiri) bersama kelompokmu!
2. Diskusikan isi naskah tersebut!
3. Bagilah kelompokmu sesuai dengan jumlah tokoh cerita dalam naskah tersebut!
4. Baca dan pahami maksud dialog tokoh yang kamu perankan!
5. Tentukan gerak/langkah-langkah pemain dalam permainan!
6. Perankan di depan kelas!

Daftar Pustaka:
Hariningsih, Dwi dkk, 2009, Membuka jendela ilmu pengetahuan dengan bahasa dan sastra Indonesia 2: SMP/MTs Kelas VIII, Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 50.
Sumber: buku Kumpulan Drama Remaja, editor A. Rumadi, PT Gramedia Jakarta,1988, hal. 5-

Materi Kelas 8 Bhs Indonesia KD 5.2



MATERI

Kompetensi Dasar: 5.2 Mengevaluasi peran tokoh dalam pementasan drama.

1. Tokoh dan Karakteristik Tokoh
Istilah penokohan juga sering disamakan dengan istilah perwatakan atau karakterisasi (tidak sama dengan karakteristik). Berdasarkan peranannya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yakni : a. Antagonis, tokoh utama berprilaku jahat,
b. Protagonis, tokoh utama berprilaku baik,
c. Tritagonis, tokoh yang berperanan sebagai tokoh pembantu.

Selain itu, berdasarkan fungsinya di dalam alur cerita tokoh dapat diklasifikasi menjadi 3 macam juga, yakni :
a.. Sentral, tokoh yang berfungsi sebagai penentu gerakan alur cerita,
b. Utama, tokoh yang berfungsi sebagai pendukung tokoh antagonis atau protagonis,
c.. Tokoh pembantu, tokoh yang berfungsi sebagai pelengkap penderita dalam alur cerita.

Masih berkaitan dengan tokoh ini, ada istilah yang lajim digunakan yakni penokohan dan teknik penokohan. Penokohan merujuk kepada proses penampilan tokoh yang berfungsi sebagai pembawa peran watak tokoh cerita dalam drama. Sedangkan teknik penokohan adalah teknik yang digunakan penulis naskah lakon, sutradara, atau pemain dalam penampilan atau penempatan tokoh-tokoh wataknya dalam drama.

Teknik penokohan dilakukan dalam rangka menciptakan citra tokoh cerita yang hidup dan berkarakter. Watak tokoh cerita dapat diungkapkan melalui salah satu 5 teknik di bawah ini.
a. Apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dikehendaki tentang dirinya atau tentang diri orang lain.
b. Lakuan, tindakan,
c. Cakapan, ucapan, ujaran,
d. Kehendak, perasaan, pikiran,
e. Penampilan fisik.
Tokoh watak atau karakter dalam drama adalah bahan baku yang paling aktif dan dinamis sebagai penggerak alur cerita. Para tokoh dalam drama tidak hanya berfungsi sebagai penjamin bergeraknya semua peristiwa cerita, tetapi juga berfungsi sebagai pembentuk, dan pencipta alur cerita. Tokoh demikian disebut tokoh sentra

Penokohan, gerak, dan cakapan adalah tiga komponen utama yang menjadi dasar terjadinya konflik (tikaian) dalam drama. Pada hakekatnya, konflik (tikaian) merupakan unsur instrinsik yang harus ada di dalam sebuah drama.

Tokoh cerita dalam drama dapat diwujudkan dalam bentuk 3 dimensi, meliputi .
a. Dimensi fisiologi, yakni ciri-ciri fisik yang bersifat badani atau ragawi, seperti usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri wajah, dan ciri-ciri fisik lainnya.
b. Dimensi psikologi, yakni ciri-ciri jiwani atau rohani, seperti mentalitas, temperamen, cipta, rasa, karsa, IQ, sikap pribadi, dan tingkah laku.
c. Dimensi sosiologis, yakni ciri-ciri kehidupan sosial, seperti status sosial, pekerjaan, jabatan, jenjang pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan pribadi, sikap hidup, perilaku masyarakat, agama, ideologi, sistem kepercayaan, aktifitas sosial, aksi sosial, hobby pribadi, organisasi sosial, suku bangsa, garis keturunan, dan asal usul sosial.

2. Langkah-langk mengevaluasi pemeranan tokoh drama dalam pementasan drama :
a. Mengenali Jenis Peran yang Dimainkan Tokoh
Dalam drama ada tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis atau tokoh utama adalah tokoh dalam sastra/drama yang memegang peran pimpinan (tokoh baik). Tokoh protagonist atau tokoh lawan adalah tokoh dalam sastra/drama yang merupakan penentang utama dari tokoh utama (protagonis).

Contoh evaluasi terhadap pemeranan tokoh dalam pertujukan seni drama yang berjudul
“Kisah Perjuangan Suku Naga” karya W.S. Rendra, yang dimainkan oleh Bengkel Teater di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

“Adi Kurdi memerankan seorang petinggi yang bijak pada masyarakat Suku Naga. Kostumnya sangat mendukung penampilannya. Penampilan dan ekspresi wajahnya sangat meyakinkan. Dia membacakan sepenggal sajak Rendra dengan intonasi suara yang menggetarkan jiwa, “… kemarin dan esok adalah hari ini/bencana keberuntungan sama saja/langit di luar, langit di badan/bersatu dalam jiwa

b. Mengevaluasi Pemeranan Tokoh
Tokoh termasuk unsur instrinsik drama. Tatkala kamu memilih untuk mengevaluasi tokoh cerita yang akan dipentaskan dalam pertunjukan seni drama, perhatikanlah kemampuan temanmu dalam berakting, penamaan, keadaan fisik tokoh, keadaan sosial tokoh, dan karakter tokoh.
Nama tokoh, misalnya, mencerminkan masalah dan konflik-konflik yang terjadi di dalam drama. Setiap nama yang diberikan kepada tokoh akan menimbulkan imajinasi penonton. Nama itu akan dihubungkan dengan pengetahuan tentang realitas yang dimilliki penonton. Nama juga dapat memunculkan gambaran tentang profil tertentu yang berkaitan dengan etnis, agama, latar belakang sosial ekonomi, dan asal daerah. Kadang-kadang nama tokoh juga mencerminkan tradisi yang dimiliki etnis tertentu. Gambaran tersebut muncul karena penonton/pembaca telah memiliki pengetahuan dan pengalaman dari kehidupan nyata.

c. Penilaian pemeranan tokoh dilakukan berdasarkan aspek vokal, akting, penghayatan peran, dan penampilan fisik tokoh.
1) Penilaian vokal difokuskan pada kejelasan suara, tuturan, ujaran, dan nada berbicara dari tokoh yang dinilai.
2) Penilaian kemampuan akting difokuskan pada kemampuan seorang dalam memerankan jenis tokoh tertentu.
3) Aspek penghayatan ditekankan pada ekspresi wajah, penampilan, dan penjiwaan peran
4) Penampilan fisik tokoh ditekankan pada gerak tubuh dan kostum.
98 0
Sekarang, berikanlah penilaianmu terhadap tokoh-tokoh yang diperankan oleh temantemanmu pada drama yang dimainkan oleh kelompokmu. Penilaianmu difokuskan pada aspek penampilan, ekspresi wajah, intonasi suara, dan kesesuaian kostum dengan karakter tokoh yang dimainkan.

Materi Kelas 8 Bhs Indonesia KD 5.1


MATERI

KD 5.1 MENANGGAPI UNSUR PEMENTASAN DRAMA

Drama adalah cermin dari kehidupan nyata. Ada aneka permasalahan. Ada bermacam-macam watak manusia. Ada yang jahat dan ada yang baik. Ada kebersamaan, perselisihan, konflik, dan sebagainya. Semuanya tercermin dalam kisah drama.

1. Pengertian Drama
Secara etimologi, kata drama berasal dari bahasa Yunani yaitu draomae, artinya perbuatan atau gerakan. Drama adalah salah satu seni sastra yang diwujudkan dalam bentuk dialog tokohtokohnya untuk menggambarkan kehidupan yang nyata.
Drama dapat diujudkan dengan berbagai media: diatas panggung, film, dan atau televise. Kadang drama dikombinasikan dengan dengan musik dan tarian, sebagamana sebuah opera (melodrama).
Di Indonesia, pertunjukan sejenis drama mempunyai istilah yang bermacam-macam seperti, wayang orang, ketoprak, ludruk ( Tengah dan Jawa Timur), lenong (Betawi), randal (Minang), reog (Jawa Barat), rangda (Bali), dan sebagainya.
Drama adalah suatu karya yang mengungkapkan sisi kehidupan manusia dalam  bentukdialog dan dipentaskan.

2. Unsur‐Unsur Pementasan Drama
Sebuah drama memiliki beberapa unsur, yaitu sebagai berikut.
a. Dialog
Dialog adalah percakapan beberapa orang dengan mewakili karakter tokoh yang diperankan. Setiap dialog dalam drama sudah disusun atau ditetapkan dalam naskah drama.
b. Tokoh
Tokoh sering disebut pemeran, yaitu orang yang ditugaskan sutradara untuk memerankan karakter sesuai dengan naskah drama. Tokoh dalam drama ada tiga jenis yaitu tokoh utama atau tokoh sentral, tokoh yang memicu permasalahan, dan tokoh pendamping atau figuran.
c. Setting
Panggung atau setting merupakan tempat pementasan drama. Setting dalam pementasan drama menampilkan suasana, keadaan, tempat, ruang, dan waktu dalam cerita drama.

3. Membahas Pementasan Drama
Membahas pementasan drama artinya memberi pendapat, tanggapan, kritikan, atau masukan terhadap pementasan drama. Bagaimana cara membahas pementasan drama yang baik? Pembahasan atau pementasan drama menyangkut persoalan persoalan berikut.

a. Pendahuluan
1) Bagaimana isi secara ringkas drama yang dimainkan?
2) Himpunan atau lembaga mana yang pernah mementaskan drama tersebut?
3) Kapan dan di mana dipentaskan?
4) Siapa saja tokoh-tokoh yang memainkan drama tersebut?
5) Siapakah penulis naskah dan sutradara drama tersebut?

b. Pembahasan
1) Apakah isi drama itu mudah diikuti, runtut, dan masuk akal?
2) Apakah dialog-dialog yang ditampilkan pelakunya menarik, lancar, dan mengandung makna bagi para penonton?
3) Apa jenis drama yang dipentaskan dan bagaimana karakteristik para pelakunya?
4) Apakah hubungan antara satu bagian dan bagian lain tampak serasi?
5) Apakah ada sesuatu yang tersirat atau ada suatu pesan di balik drama itu?
6) Apakah pesan itu terang-terangan sehingga menuju ke suatu propaganda atau kampanye?
7) Bagaimana bahasa yang digunakan dalam dialog-dialog dalam drama itu?
8) Apakah bahasa dalam dialog itu sekaligus juga mencerminkan tokohnya?

Pada pelajaran yang lalu, kelompokmu pernah menulis naskah drama berdasarkan peristiwa nyata bukan? Coba, buka dan pahami kembali, kemudian lakukan kegiatan berikut!
1. Bentuklah kelompok yang terdiri tiga sampai lima kawan.
2. Pilih salah satu naskah drama dari anggota kelompok yang menarik.
3. Pentaskanlah di depan kelas dengan petunjuk dari guru.
4. Sambil menunggu giliran, kelompok lain memberi penilaian dan tanggapan mengenai:
a. akting para tokoh,
b. cerita yang diangkat,
c. alur cerita,
d. dialog percakapan para tokoh,
e. latar/setting,
f. kostum yang digunakan.
5. Bantulah guru memberi penilaian.

Latihan

Disajikan naskah drama satu babak di bacakan oleh guru/ disajikan tayangan drama satu babak, siswa mendengarkan/menyimak dengan cermat. Selanjutnya mencatat pokok-pokok isi drama, unsur-unsur instrinsik yang terdapat dalam drama.

Contoh Naskah Drama Satu babak

“Bila Malam Bertambah Malam”
Karya Putu Wijaya

BABAK I
MALAM DI TEMPAT KEDIAMAN GUSTI BIANG. SEBUAH BALE YANG DISEMPURNAKAN UNTUK TEMPAT TINGGAL. GUSTI BIANG MEMANGGIL‐MANGGIL WAYAN.

Adegan I
KELIHATAN NYOMAN SEDANG MENYIAPKAN MAKAN MALAM UNTUK GUSTI BIANG. SEMENTARA WAYAN MENGAMPELAS PATUNG. ORIGINAL SOUNTRACK: WAYAN .. Wayaaaaaan .... NYOMAN MEMBERI ISYARAT KEPADA WAYAN.
NYOMAN               : Benar Ida akan pulang hari ini?
WAYAN                 : Ya ....

Adegan II
DI RUANG DEPAN ADA KURSI GOYANG DAN KURSI TAMU. GUSTI BIANG NGOMEL TERUS.
GUSTI BIANG       : Si tua itu tak pernah kelihatan kalau sedang dibutuhkan. Pasti ia sudah berbaring dikandangnya menembang seperti orang kasmaran pura‐pura tidak mendengar, padahal aku sudah berteriak, sampai leherku patah. Wayaaaaan ..... Wayaaaaan tuaaaa.....
WAYAN                : Nuna sugere GUSTI BIANG, kedengarannya seperti ada yang berteriak ................
GUSTI BIANG       : Leherku sampai putus memanggilmu, telingamu masih kamu pakai tidak?
WAYAN                 : Tentu saja Gusti Biang, itu sebabnya tiyang datang .........
GUSTI BIANG       : Jangan berbantah denganku. Kau sudah tua dan rabun, lubang telingamu sudah ditempati kutu busuk. Kau sudah tuli, malas dan suka berbantah, cuma bisa bergaul dengan si belang. Kau dengar itu kuping tuliWAYAN : Betul Gusti Biang.

Martanti dan Supratiwi P, 2009, Kreatif Berbahasa Indonesia 3: untuk SMP dan MTs Kelas IX, Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, h. 183 – 184.

Materi Kelas 8 Bhs Indonesia KD 4.3



A. Materi
KD: 4.3 Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif.

Petunjuk diartikan sebagai ketentuan yang memberi arah atau bimbingan untuk menggunakan atau melakukan sesuatu. Petunjuk yang baik mengungkapkan alur kegiatan yang tersusun rapi, sistematis, urutannya tepat, serta menggunakan bahasa yang lugas, mudah dipahami, dan efektif.
Ketika menulis petunjuk, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.
1) Tentukan petunjuk yang dibuat untuk melakukan apa?
2) Tentukan sasarannya siap (anak-anak, remaja, atau dewasa).
3) Tuliskan urutan tahapan yang harus dilakukan secara jelas dan logis.
4) Gunakan bahasa yang jelas, efektif, dan mudah dipahami.
Apakah kalian pernah membuat suatu mainan, kerajinan, atau melakukan kegiatan yang agak rumit? Pernahkah kalian mencoba menuliskan proses tersebut? Untuk menuliskannya, kalian harus memberikan petunjuk pelaksanaan dengan urutan yang tepat dari awal hingga akhir proses. Di samping itu, kalian sebaiknya menggunakan kalimat yang efektif dan lugas sehingga mudah dimengerti orang lain.


Petunjuk I
Ayo, Ikutan Audisi!
Kamu tertarik untuk mengikuti audisi Duta Pariwisata dan Kebudayaan Nasional? Siapa saja bisa mengikuti audisi ini, tapi harus menjadi wakil sekolah dulu. Jenjang untuk menjadi Duta Pariwisata dan Kebudayan Nasional memang panjang. Buat kamu yang punya semangat berkompetisi, ini tahapan-tahapan yang harus kamu lalui.
1. Seleksi tingkat sekolah
Sekolah diberikan kesempatan melakukan proses seleksi mengenai wawasan kepariwisataan dan wawasan kebudayaan. Dari hasil seleksi, sekolah mengirimkan siswa terbaiknya untuk mengikuti seleksi ke tingkat kabupaten/ kota. Dalam proses seleksi tahapini, pihak-pihak yang terlibat antara lain kepala sekolah, guru Sosiologi, guru Pendidikan Kewarganegaraan, guru Bahasa Indonesia, BP3, dan masyarakat (sponsor).
2. Seleksi tingkat kabupaten/kota
Pada tahap ini, lima siswa terbaik dari seleksi tiap sekolah dikirim untuk diseleksi lagi melalui tes. Adapun pihakpihak yang terlibat dalam tahap ini adalah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) setempat, perguruan tinggi yang berkaitan dengan kepariwisataan dan kebudayaan, Dinas Kabupaten/Kota, Dikmenum, dan masyarkat (sponsor).
3. Seleksi tingkat provinsi
Siswa yang diseleksi pada tahap ini hanya berjumlah dua orang dari setiap kabupaten/kota. Pihak yang terlibat dalam proses seleksi ini adalah semua yang terlibat di seleksi tingkat kabupaten/kota, kecuali Dinas Kabupaten/Kota dan MGMP. Pada tahap ini, turut bergabung juga Dinas Provinsi.
4. Seleksi nasional
Pada tahap ini, keterlibatan para peserta sangat diperlukan. Tugasnya untuk lebih detail menyeleksi para peserta. Pembina dalam tahap ini hanya dibantu oleh pihak perguruan tinggi dan Dikmenum. Dalam tahap ini, diambil satu orang peserta audisi yang terbaik.
Karya: Rama
Wacana di atas merupakan petunjuk yang menjelaskan langkah-langkah atau tahapan untuk dapat menjadi peserta Audisi Duta Pariwisata dan Kebudayaan Nasional. Dalam petunjuk tersebut dijelaskan secara detail berkaitan dengan prosedur atau tahapan yang harus ditempuh untuk dapat menjadi peserta Audisi Duta Pariwisata dan Kebudayaan Nasional.


Petunjuk II
Aturan Pemakaian
Dewasa: 3x sehari 1 tablet.
Anak-Anak: 3x sehari ½ tablet.
Atau menurut petunjuk dokter.
Peringatan dan Perhatian
• Tidak dianjurkan untuk anak di bawah umur 2 tahun.
• Obat ini sebaiknya diberikan sesudah makan.
• Hati-hati pemberian pada penderita hipoksemia.
• Jangan melampaui batas dosis yang dianjurkan.
• Apabila gejala-gejala asma masih tetap atau bertambah buruk, segera hubungi dokter.
• Hati-hati pemberian pada wanita hamil.

Efek samping
• Sakit kepala, pusing, mual, muntah, diare, jantung berdebar, dan sukar tidur.
• Kelebihan dosis pada anak-anak dapat mengakibatkan hematemesis, simulasi susunan saraf pusat, diuresis, dan demam.


Kontraindikasi
• Penderita hipertensitif terhadap teofilina dan efedrina.
• Penderita hipertensi, penyakit jantung,kencing manis, tukak lambung, dan hipertiroid.
• Jangan diberikan 12 jam setelah pemberian rectal preparat lain yang mengandung teofilina atau
aminofilina.
(Sumber: Kemasan obat neo napacin)


Berdasarkan petunjuk II, dapat disimpulkan beberapa penjelasan sebagai berikut.
1. Penggunaan obat harus memerhatikan petunjuk penggunaan.
2. Terdapat peringatan dalam pemakaian obat sebagaimana telah dituliskan.
3. Pengguna obat tersebut dapat merasakan salah satu efek samping seperti yang tertulis.
4. Beberapa orang yang mengalami gangguan penyakit seperti yang tertulis pada kontraindikasi, sebaiknya tidak mengonsumsi obat tersebut.


Menulis petunjuk melakukan sesuatu harus secara jelas. Hal ini bertujuan agar pembaca petunjuk tidak mengalami kesalahan saat melakukan sesuatu yang diinginkan sesuai dengan petunjuk.Dalam menulis petunjuk, kalian perlu memerhatikan hal-hal berikut.
1. Tuliskan petunjuk melakukan sesuatu secara urut sesuai urutan yang harus dilakukan, apabila perlu dengan penomoran.
2. Tuliskan petunjuk secara rinci dan detail.
3. Cantumkan keterangan secara lengkap dan jelas berkaitan dengan hal yang akan dilakukan.
4. Cantumkan hal-hal yang harus dihindari apabila hal yang akan dilakukan berkaitan dengan sesuatu yang dapat menimbulkan dampak negatif, misal dalam pembuatan barang yang menggunakan zat kimia dan sebagainya.
5. Gunakan bahasa yang singkat, jelas, dan komunikatif.
6. Jika perlu sertakan ilustrasi pendukung seperti gambar dan sebagainya.

Contoh lain petunjuk adalah sebagai berikut.

Membuat minuman ”Orange Squash”
Bahan-bahan:
• 15 ml
• 120 ml orange juice
• Soda
Cara membuat:
Tuangkan contoh sirup ke dalam gelas. Lalu tambahkan orange juice dan soda. Minuman siap dihidangkan.


Daftar Pustaka:

1. BSNP(Badan Standar Nasional Pendidikan). 2006. Standar Isi 2006. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta.
2. Departemen Pendidikan Nasional. 2002b. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi: Menulis. Jakarta: Depdiknas.
3. Tarigan. H.G. 1986. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Bahasa. Bandung: Angkasa.
4. Tarigan. H.G.& Tarigan. D. 1990. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

B. Latihan
1. Susunlah secara benar sebuah petunjuk melakukan sesuatu berdasarkan daftar kalimat yang disusun secara acak berikut ini.
a.Tuangkan bumbu, minyak bumbu, dan bubuk cabe ke dalam mangkok, sementara mi dimasak.
b. Mi siap disajikan.
c. Aduk secara perlahan selama tiga menit sampai mi terlihata matang.
d. Tuangkan mi beserta kuahnya ke dalam mangkuk yang sudah berisi bumbu.
e. Rebus mi dalam air mendidih 400 cc (2 gelas).
2. Sebutkan ciri-ciri bahasa yang digunakan dalam petunjuk!
3. Buatlah sebuah petunjuk membuat barang dengan menggunakan barang bekas!
4. Suntinglah pekerjaan temanmu dengan saling menukarkan hasil pekerjaan, kemudian perbaikilah pekerjaan Anda yang telah disunting itu!